Selasa, 08 Januari 2013

Hukum henna dalam Islam

Hukum henna dalam Islam
-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata : “Tidak apa-apa berhias dengan memakai inai, terlebih lagi bila si wanita telah bersuami dimana ia berhias untuk suaminya. Adapun wanita yang masih gadis, maka hal ini mubah (dibolehkan) baginya, namun jangan menampakkannya kepada lelaki yang bukan mahramnya karena hal itu termasuk perhiasan. Banyak pertanyaan yang datang dari para wanita tentang memakai inai ini pada rambut, dua tangan atau dua kaki ketika sedang haidh.
Jawabannya adalah hal ini tidak apa-apa karena inai sebagaimana diketahui bila diletakkan pada bagian tubuh yang ingin dihias akan meninggalkan bekas warna dan warna ini tidaklah menghalangi tersampaikannya air ke kulit, tidak seperti anggapan keliru sebagian orang. Apabila si wanita yang memakai inai tersebut membasuhnya pada kali pertama saja akan hilang apa yang menempel dari inai tersebut dan yang tertinggal hanya warnanya saja, maka ini tidak apa-apa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 4/288).

HUKUM MERIAS TANGAN DAN KAKI BAGI WANITA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Tentang hukum merias kedua tangan dan kaki bagi para perempuan.

Jawaban
Merias (melukis di) tangan dan kaki dengan daun pacar (inai) disarankan bagi para wanita yang sudah menikah, dengan dalil hadits-hadits yang masyhur tentang hal ini, yang menunjukkan kebolehannya, diantaranya adalah riwayat Abu Daud, bahwasanya ada wanita yang bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma tentang merias dengan daun pacar (inai), beliau menjawab, boleh, akan tetapi aku tidak menyukainya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai baunya. [HR An-Nasa’i]

Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma ia berkata bahwa ada seorang wanita yang menyodorkan kitab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari balik tabir, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tangan beliau dan bersabda : “Saya tidak tahu, ini tangan lelaki atau tangan perempuan?”[HR Abu Daud dan An-Nasa’i]

Akan tetapi tidak diperbolehkan untuk melukis (mewarnai) kuku-kukunya dengan zat yang bisa mengental dan menghalangi aliran air ketika thaharah (bersuci).

[Tanbihat Ala Ahkamin Takhushshu bil Mukminat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 11]

[Disalin dari Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penerjemah Ahmad Amin Sjihab Lc, Penerbit Darul Haq – Jakarta]




JASA PASANG HENNA MEHNDI
untuk wilayah JAKARTA BOGOR TANGERANG DAN SEKITARNYA

desain henna untuk pernikahan dikerjakan 2 hari sebelum hari H
terutama bila menggunakan henna natural agar warna henna keluar maksimal.

pengerjaan dapat di lakukan distand kami di:
jl. madrasah rt.001/08 pd. benda Pamulang 2 Tangerang selatan

atau bisa dikerjakan di rumah costemer
untuk costemer yang bertempat tinggal di daerah pamulang, ciputat, free biaya transport, diluar itu d sesuaikan dengan jauhnya lokasi



untuk pertanyaan lebih lanjut kirim pesan via email ke :
wajah.pribumi26@gmail.com
fb: indahmuarafatqu
sms/whatsapp only: 085695379040
HA: Indah
|

1 komentar:

  1. Trims.. Artikrlnya sangat membantu sekali..
    oya kalau untuk tren kaos kaki muslimah saat ini seperti apa ya..
    Trimss dan moga sukses

    BalasHapus

Sponsors : Best Themes | New WP Themes | Best Blogger Themes
Copyright © 2013. HENNA DESIGN - All Rights Reserved
Template Design by Shihara | Published by New Blog Themes
Powered by Blogger